Beranda / RAGAM / YOU TUBE / Pemdes Wonosari, Tanjung Morawa Angkat Bicara Soal Derita Warganya yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot

Pemdes Wonosari, Tanjung Morawa Angkat Bicara Soal Derita Warganya yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot

Pemdes Wonosari, Tanjung Morawa Angkat Bicara Soal Derita Warganya yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot

SATYA BHAKTI ONLINE | TANJUNG MORAWA (DELI SERDANG) – Pemerintah Desa (Pemdes) Wonosari, Kecamatan Tanjung Morawa, akhirnya angkat bicara terkait viralnya kabar seorang warga yang tinggal dalam gubuk reyot selama bertahun-tahun tanpa perhatian.

Kisah memilukan ini menyita perhatian publik setelah dokumentasi kondisi memprihatinkan warga tersebut beredar luas di media sosial dan diberitakan oleh media lokal.

Menanggapi itu, Senin 19 Mei 2025, Kepala Desa Wonosari (Suparman) yang diwakili Kepala Dusun (Kadus) 7 Desa Wonosari  (Saharuddin) menyampaikan bahwa pihaknya tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut.

Ia mengakui bahwa memang ada warganya yang hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Namun, pihak desa mengklaim telah melakukan sejumlah langkah sesuai kemampuan dan prosedur yang berlaku.

“Kami sangat prihatin dan terus berupaya mencarikan solusi terbaik. Warga tersebut memang masuk dalam kategori keluarga kurang mampu, dan namanya sudah tercatat dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS),” ungkap Kadus 7 Desa Wonosari itu.

Menurut Kadus 7 Desa Wonosari itu, proses realisasi bantuan membutuhkan waktu karena melibatkan verifikasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten.

Baca Juga :

Di Balik Senyapnya Desa Wonosari, Tanjung Morawa, Ada Derita Warga yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot

Terkait bantuan perbaikan rumah atau dikenal dengan bedah rumah oleh pemerintah kepada warga yang tinggal dirumah tidak layak huni, Kadus 7 Wonosari itu menuturkan, pemerintah, khususnya Pemdes Wonosari mempunyai keterbatasan kuota bantuan tiap tahun yang kesemuanya itu membuat sebagian warga harus menunggu giliran.

“Kita sudah usulkan ke dinas terkait Kabupaten Deli Serdang. Harapan kami, secepatnya bisa terealisasi,” tambah Kadus 7 Desa Wonosari itu.

Dalam hal ini, Kadus 7 Desa Wonosari itu menegaskan, Pemdes juga menegaskan bahwa keterbatasan anggaran desa menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan bantuan secara maksimal kepada seluruh warga yang membutuhkan.

Untuk itu, Kadus 7 Desa Wonosari itu mengungkapkan, mereka membuka ruang bagi kerja sama lintas sektor, termasuk dari kalangan dermawan maupun lembaga sosial.

Kadus 7 Desa Wonosari itu berharap semua pihak dapat memahami prosedur dan keterbatasan yang dihadapi pemerintah desa.

“Kami tidak tinggal diam. Justru kami terus berupaya, tapi semua ada tahapannya,” pungkas Kadus 7 Desa Wonosari itu.

Sementara itu, dengan mengakui pihak desa telah beberapa kali mendatangi rumah tersebut, warga sekitar menyayangkan lambannya bantuan yang turun.

Mereka (warga) berharap perhatian dari pemerintah tidak hanya berhenti pada pendataan, tapi juga diwujudkan dalam bentuk bantuan nyata.

Selain itu, warga juga berharap agar pemerintah bergerak cepat dan tidak hanya sebatas reaktif setelah kasus viral.

Mereka mendesak agar program bantuan sosial lebih tepat sasaran dan transparan, sehingga tak ada lagi warga yang harus hidup dalam ketidaklayakan di tengah geliat pembangunan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam upaya mewujudkan keadilan sosial, terutama bagi masyarakat kecil yang kerap luput dari sorotan.

Di Balik Senyap Desa Wonosari, Tanjung Morawa, Ada Derita Warga yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot
Di Balik Senyap Desa Wonosari, Tanjung Morawa, Ada Derita Warga yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot. (FOTO : SBO/Istimewa)
  • Derita Warga yang Hidup Bertahun di Gubuk Reyot

Untuk diketahui, Di tengah hamparan sawah dan pepohonan di Desa Wonosari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, berdiri sebuah gubuk reyot berdinding anyaman bambu yang hampir roboh.

Di dalamnya, tinggal sapasang suami istri bersama dua anaknya, bertahan hidup dari sisa-sisa harapan yang terus dirawat di tengah keterbatasan.

Namanya Sidik Pramono (33) dan istrinya bernama Sri Gati (31).

Sedangkan anaknya bernama Ramadhan (8) dan Azzahrah (6).

Sudah lebih dari 5 Sidik Pramono tinggal di rumah yang nyaris tak layak disebut tempat tinggal itu.

Rumah beratap rumbia yang sudah bocor di sana-sini dengan lantai tanah serta dinding rumah tanpa berjendela yang kini sudah lapuk itu menjadi saksi bisu perjuangannya membesarkan kedua anak mereka tanpa penghasilan tetap.

Selain itu, setiap harinya, mereka juga harus menahan dinginnya angina malam, karena kondisi dinding rumah tanpa berjendela yang kini sudah lapuk itu, kini sudah tak mampu lagi menahan angin malam.

Untuk mengurangi derasnya air hujan masuk ke dalam rumah, Siddik Pramono (suami Sri Gati) menambahkan, dirinya melapisi atap rumahnya itu dengan plastik terpal.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di wilayah yang tidak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Padahal, lokasi rumah itu hanya butuh waktu sekira 20 menit dari ibu kota Kabupaten Deliserdang yakni Lubuk Pakam.

Namun, perbedaan nasib warga di desa ini bak langit dan bumi.

Terkait bantuan pemerintah, Sri Gati mengungkapkan, keluarganya mendapat bantuan dari pemerintah yakni Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan anaknya mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah melalui Program Indonesia Pintar (PIP).

Sedangkan, bantuan dari pemerintah terkait bedah rumah, Sri Gati mengungkapkan, tidak pernah.

“Pernah ada survey, pernah pula rumah difoto oleh petugas. Namun, sampai hari ini tak ada realisasi. Kami cuma ditanyai saja, setelah itu tak ada kabar,” kata Sri Gati.

Kini, suara mereka kerap tenggelam dalam hiruk-pikuk pembangunan yang hanya menyentuh pusat kota.

Sedangkan di balik kesunyian Desa Wonosari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang itu, ada jeritan yang tertahan tentang hak hidup layak, tentang harapan akan keadilan sosial, dan tentang negara yang belum sepenuhnya hadir bagi warganya yang paling rapuh.

Kini, warga hanya berharap, suara mereka bisa sampai ke telinga pemimpin.

Bukan untuk mengemis belas kasihan, tapi untuk menuntut hak sebagai warga negara yang seharusnya dilindungi dan diperhatinkan. (red)

Lihat juga : Liputan  di YOU TUBE SATYA BHAKTI ONLINE

Editor/Publish : Antonius Sitanggang

Renungan :

“Seorang raja harus menjaga kesejahteraan rakyatnya seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya.”